Empat jam transit di Kendari pada pertengahan Juli tahun ini, saya manfaatkan untuk makan pisang ijo Amanda yang terkenal seantero Kendari. Saya dan Rinda mengklaim pisang ijo Amanda ini terenak se-Indonesia. Agak sedikit lebay memang, entah karena memang sedang lapar, tapi wajib di coba ketika berada di Kota Kendari.
Setelah “puas” dengan Pisang Ijo, waktu yang tersisa sebelum boarding kembali ke Makasar, kami manfaatkan untuk mengunjungi landmark kota Kendari: Menara & Gedung MTQ. Gedung dan Menara ini di bangun tahun 2006 saat Kendari menjadi tuan rumah Musabaqah Tilawatil Quran tingkat Nasional ke-21. Halamannya sangat luas, fungsinya sekarang lebih mirip sebagai alun-alun seperti di Jawa. “Alun-alun” inipun sekarang sering dijadikan sebagai tempat pergelaran bermacam-macam acara, bazaar ataupun konser musik. Bahkan pada waktu itu, “alun-alun” ini sedang dipakai untuk tempat ujian SIM A oleh kepolisian daerah setempat.
Untuk menuju pusat kota, dari bandara Haluoleo, saya dan Rinda menggunakan taksi bandara, ongkosnya sekitar 80k untuk sekali jalan.
Kendari cukup mudah di jangkau. Hampir semua maskapai nasional membuka rute Makasar-Kendari. Bahkan beberapa maskapai seperti Lion Air dan Batavia membuka penerbangan langsung Jakarta-Kendari (pp), walaupun tidak setiap hari. Kendari juga menjadi jalur alternatif menuju Wakatobi, selain dari Makasar.
Pada saat penyelenggaraan Sail Wakatobi 2011 kemarin, pemerintah Wakatobi mensubsidi penerbangan Kendari-Wanci (pp)-menggunakan Express Air, menjadi hanya 300k. Tarif yang sangat menguntungkan bagi para pelancong maupun masyarakat setempat untuk pergi dan menuju Wakatobi. Sebagai perbandingan, dari Kendari ke Makasar menggunakan Batavia Air tarifnya di kisaran harga 500k. Jika di total harga total Wanci-Kendari-Makasar ini masih separuh dari harga Express Air Wanci-Makasar yang berada di harga 1.399k.
Posted via email from Eureka! | Comment »