Install this theme
Tulamben Yang Nggumuni
#10/10/2010Sejak bulan Juni tahun 2010, saya sudah memegang sertifikasi scuba diver untuk tingkat pemula dari NAUI. Sejak itu hampir setiap minggu saya menyelam di sekitar perairan Bontang bersama Badak Diving Club (BDC). Dan karena sudah banyak titik yang kami jelajahi, muncul ide untuk menyelam di luar Bontang. Dan akhirnya bersama tiga rekan dari semula empat, kami berangkat ke Bali untuk menyelama di Tulamben dan Nusa Penida. Satu orang gagal ikut berangkat ke Bali karena harus mempersiapkan presentasi untuk sebuah forum di Belanda. Yang pada akhirnya gagal juga karena keterlambatan pengiriman visa. Bali menjadi pilihan, karena akses yang mudah dan seperti yang pernah di tulis teman saya Wildan, Bali merupakan A One Stop Shopping Tourism, karena banyaknya ragam aktivitas yang bisa di lakukan di Bali. Detail dari perjalanan dive di Bali ini sebenarnya secara lengkap pernah di tulis oleh Wildan di sini.

Selama di Bali kami menggunakan jasa dari BMS, salah satu dive shop tertua yang pernah ada di Bali, berdiri sejak tahun 1979. Kami memilih paket 4 hari 3 malam (2 hari penyelaman, 2 kali penyelaman per hari). Tulamben

Dari tempat menginap kami di Hotel Puri Gopa, Sanur menuju Tulamben di butuhkan sekitar dua jam perjalanan darat. Setibanya di Tulamben tanpa ada perintah apapun, semua peralatan selam langsung di angkut ke menuju bibir pantai. Sebagian para pekerja “pengangkut” ini adalah para wanita yang mampu mengangkut tabung berisi udara penuh sebanyak 2 buah sekaligus. Yang laki-laki pun tak kalah kuat, mereka mampu mengangkat 3 tabung sekaligus. Karena ini adalah pertama kali dive di luar Bontang yang menggunakan jasa Dive Shop, saya bak seperti raja (*lebay), karena yang perlu saya lakukan sebelum menyelam hanyalah menyiapkan baju selam, selebihnya, mulai dari weight belt sampai dengan pemakaian BCD (Buoyancy Control Device) pun kami di bantu untuk memakainya.

Maklum di Bontang kami terbiasa menyiapkan peralatan selam secara mandiri, mulai mengangkut tabung udara ke kapal, menyiapkan BCD, sampai dengan bongkar muat peralatan selam setelah selesai, membilas peralatan selam dengan air tawar kemudian menyimpannya. Rombongan pun langsung bergerak menuju bibir pantai. Entry point di Tulamben adalah pantai berbatu yang batuannya lebih mirip seperti sungai, karena berasal dari batuan vulkanik Gunung Agung. Gunung Agung merupakan gunung tertinggi di Bali yang terakhir meletus pada tahun 1964. Nampak di bibir pantai beberapa turis dari luar (lagi-lagi pada kesempatan ini tidak menemukan turis lokal) sedang bersiap-siap juga untuk turun.

Daya tarik utama di Tulamben adalah USAT Liberty milik Amerika serikat. Liberty adalah sebuah kapal cargo yang mengangkut peralatan perang yang dilumpuhkan oleh torpedo kapal selam milik Jepang I-166, di Selat Lombok pada 11 Januari 1942 dalam perang dunia II. Kapal tersebut kemudian ditarik ke arah Singaraja, tetapi dalam perjalanannya di sekitar Tulamben kapal diarahkan ke pantai untuk mencegah karam. Kemudian pada saat Gunung Agung meletus tahun 1963 kapal tersebut akhirnya tenggelam akibat goncangan yang menghantamnya dan semakin terdorong ke lautan yang agak dalam. Sebagian badan kapal terurug oleh Lava. Kapal ini karam tidak jauh dari pantai Tulamben, sekitar 15 meter dari tepi pantai atau titik 50L0344909 UTM 9085192. (Sumber). Kesan pertama begitu masuk ke kedalaman lebih dari 12 meter adalah ‘bening banget’, saya terkagum-kagum (aslinya emang gumunan :)) ) dengan visibilitas Tulamben yang sangat bagus, bahkan di sampai dengan kedalaman 30 meter. Ibarat orang kampung yang baru pertama kali masuk Grand Indonesia. :ndeso: . Maklum di Bontang untuk mencari visibility yang baik di kedalaman di atas 10 meter cukup sulit. Pantai Bontang kebanyakan berlumpur, sehingga sekali “mengaduk” lumpur, butuh waktu lama untuk bisa bening lagi.

Jadi harap maklum jika kami sering berhenti lama untuk memotret yang “biasa-biasa” alias gak penting, padahal guide sudah membunyikan klontengan-nya untuk menuju titik yang lebih menarik. Jika di daratan cukup sepi, berbeda ketika di bawah, rombongan penyelam begitu banyak bak berada di pasar sayur. Bedanya memang gak ada yang jualan sayur. Bahkan saya sempat kesasar mau ikut rombongan yang berbeda. Di penyelaman kedua rombongan kami cukup beruntung, karena bertemu denga juru kunci Tulamben, seekor baracudda dengan panjang kurang lebih 2 meter, yang sedang bersantai di tempat peristirahatannya. Konon katanya ikan ini sudah berada di Tulamben selama kurang lebih 5 tahun.

Semua foto punya orang, maklum, belum punya underwater case sendiri. :( Foto oleh MR Taufik
Foto oleh Wildan Johardi

Posted via email from mybrainsgrowell’s posterous | Comment »